Sebelum Semua Dimulai

Di saat semuanya berusaha untuk jadi sempurna,
aku cuma berusaha buat tetap bernapas.
Untuk tetap ada di sini.
Untuk terus bertahan.

Sejak pertama kali aku membuka mataku di pagi hari, semua rasanya sama.

Alarm yang sama. Jalanan yang sama. Orang-orang yang sama-sama tidak pernah saling sapa.


Pekerjaan yang dulu kuanggap impian, sekarang rasanya hanya rutinitas lain. Sebuah kebiasaan yang mudah berlalu. Percakapan singkat di kantor yang tidak membekas, juga tawa seadanya yang tidak meninggalkan kebahagiaan.


Kadang aku bertanya-tanya,

apakah kehidupan dewasa itu hanya tentang bangun, bekerja, pulang, dan mengulang hal yang sama di keesokan harinya?


Apakah selama ini ternyata aku kehilangan diriku sendiri, tertimbun dan tersembunyi di antara tumpukan pekerjaan yang tidak pernah usai?


Sebelum aku mematikan lampu kamarku dan memejamkan mata di malam hari, hati kecilku berdoa.

Aku ingin menemukan secercah kebahagiaan untukku sendiri,

sebuah keberanian untuk kembali menyambut hari dengan dada yang lapang,

sebuah cara untuk aku menemukan kembali diriku yang sudah lama kulupakan.


Dan jika memang aku butuh orang lain untuk membantuku mengingat,

Maka aku berharap kami bisa berbagi peluh dan senyum,

supaya kami tidak terperangkap dalam kesendirian.